Legenda Kademangan Ngadikerso

Umum

Awan hitam bergulung-gulung mencoba menutupi Sang Mentari yang baru saja muncul dari peraduannya. Gemuruh guntur disertai kilatan petir sambung-menyambung seakan berlomba menjadi pemenang. Kicauan burung dan riuhnya kokok ayam tak terdengar seolah mereka ketakutan menunaikan tugasnya pagi itu. Sudah tujuh hari alam tidak bersahabat seolah lupa akan cinta kasihnya. Keraton Mataram benar-benar diselimuti kegelapan seolah alam meluapkan kemarahannya. Pagi itu Sang Prabu mengumpulkan seluruh penasehat spiritual beserta punggawa kepercayaannya dalam ruang Paseban Agung.

“Para penasehat, patih, panglima dan punggawaku semua, ada apa gerangan kenapa alam seolah murka?” tanya sang Prabu.

“Maaf Gusti Prabu, pertanda alam ini menyiratkan adanya keangkara-murkaan yang terjadi di wilayah kerajaan ini,” jawab sang Resi.

“Apa maksudmu Resi, aku telah berusaha semaksimal mungkin berbuat adil dan memenuhi segala keperluan rakyatku, kenapa engkau meragukanku?” sahut Sang Prabu.

“Ampun Gusti, bukan maksud hamba meragukan kepemimpinan Gusti Prabu, kepemimpinan Gusti selama ini telah membawa rakyat Mataram gemah ripah loh jinawi, murah sandang murah pangan (makmur, tercukupi segala kebutuhan) Keadaan alam ini mengirimkan pesan adanya rakyat Sang Prabu yang sengsara karena ditindas,” sang resi mencoba menjelaskan.

“Benar Gusti Prabu, hamba mau melaporkan bahwa telik sandi (pengintai) kita baru saja

pulang dari wilayah Gunung Ungaran bagian Barat menyaksikan masyarakat dibeberapa padukuhan sekitar Alas Nogosari dan Alas Penolo tertindas dengan ulah para begal dan kecu (perampok),” panglima Keraton Mataram memberi penjelasan.

“Para prajurit dan punggawa yang saya tugaskan tidak ada yang mampu menghentikan aksi begal dan kecu tersebut Gusti. Sudah banyak para abdi dalem pilih tanding dalam olah kanuragan yang tewas menjalankan tugas,” lanjut sang panglima.

“Baiklah, kita harus segera membasmi para begal tersebut, rakyat di sekitar Alas Nogosari dan Alas Penolo tidak boleh terlalu lama menderita, kita harus segera mengirim senopati terbaik,” jawab Sang Prabu.

“Raden Mustari, segera berangkat dan bawa prajurit secukupnya, tumpas para pengacau dan tegakkan keadilan disekitar Alas Nogosari dan Alas Penolo,” perintah Sang Prabu.

Sendiko (siap) Gusti Prabu, tapi apabila diperkenankan hamba tidak akan membawa prajurit. Mereka tidak akan mampu menghadapi para begal dan kecu yang sakti mandraguna. Hamba hanya akan membawa abdi saya, Ki Selo Kopo, Ki Rogo Nolo serta Nyi Endang Kusuma. Kami akan berangkat hari ini juga,” jawab Raden Mustari.

“Baiklah, segera berangkat dan laksanakan tugasmu,” perintah Sang Prabu.

“Ngestoaken dawuh (siap melaksanakan tugas) Gusti Prabu,” Raden Mustari menjawab sambil menyembah tiga kali dan meninggalkan Paseban Agung.

Sang Surya telah dua pertiga menjalankan darmanya tatkala empat penunggang kuda keluar dari gerbang Keraton Mataram menuju arah Barat. Raden Mustari beserta abdinya begitu terampil dengan kuda–kuda kesayangan mereka. Perkampungan demi perkampungan telah mereka lalui sampai akhirnya hamparan hutan ada dihadapan mereka.

“Ki Selo Kopo, Rembulan telah bergeser ke arah Barat, kita juga telah seharian berkuda,

sebaiknya kita beristirahat di sini saja,’’ kata Raden Mustari kepada abdinya.

“Baik Gusti, kuda-kuda kita juga tampak kepayahan, kita tidak mungkin memaksakan diri,” sahut Ki Selo Kopo.

“Baiklah, para abdiku dirikan tenda, kita akan bermalam disini,” jawab Raden Mustari.

Mendapat perintah dari majikannya, para abdi Raden Mustari segera menjalankan tugasnya mendirikan tempat berteduh untuk sejenak beristirahat.

Hari masih gelap, Mentari masih malu-malu menampakkan sinarnya, kabutpun belum mau meninggalkan hutan tatkala senopati pilihan Kraton Mataram beserta abdi setianya mulai bersiap melanjutkan perjalanan. Rerimbunan pohon hutan, persawahan, tegalan, dilalui dengan cepat, secepat keinginan para punggawa kerajaan yang menginginkan segera mencapai tempat yang dituju. Tak banyak rintangan yang dilalui, merekapun hanya beristirahat untuk sekedar mengisi perut dan melanjutkan perjalanan kembali. Sang Surya telah sepenuhnya menunaikan kewajiban sucinya memberikan sinar penghidupan kepada seluruh makhluk dan digantikan Sang Rembulan.

Menjelang tengah malam, rombongan telah sampai di pinggiran hutan sisi Timur Gunung Ungaran. Raden Mustari menarik tali kekang kudanya dilanjutkan abdi-abdinya.

“Kita istirahat dulu di sini, esuk hari kita masuki hutan ini dan menumpas para begal dan perampok yang bermarkas di sana,” kata Raden Mustari.

“Saya setuju raden, tapi sebaiknya kita harus waspada,” Ki Rogo Nolo menjawab. “Benar, kita tidak usah mendirikan tenda, kita tidur di atas pohon saja sementara kuda-

kuda kita sembunyikan di semak belukar, ayo semua, kita segera bergegas,” demikian Raden Mustari memberi perintah.

Segera saja mereka mengikat dan menyembunyikan kuda-kuda di semak belukar dan secepat

kilat melompat naik ke pepohonan di sekitarnya untuk beristirahat. Tanpa terasa waktu berlalu, kokok ayam jantan sayup-sayup terdengar menandakan akan bergantinya hari. Raden

Mustari beserta abdinya telah berkumpul membahas strategi menumpas para begal dan perampok di sekitar Alas Nogosari dan Alas Penolo. “Raden, sebaiknya kita menyamar menjadi rakyat saja biar mereka tidak curiga,” usul Nyi Endang Kusuma.

“Aku setuju, kita ganti pakaian di sini dan berkuda pelan-pelan memasuki hutan,” jawab Raden Mustari.

Beriringan ke empat abdi dalem Keraton Mataram tersebut memasuki hutan belantara yang konon kata penduduk sekitar adalah sarang perampok dan begal. Matahari baru separuh menjalankan tugasnya tatkala rombongan dicegat oleh gerombolan perampok yang siap dengan senjata terhunus.

“Serahkan harta kalian, atau kalian akan menyesal,” bentak Bajul Ijo, pemimpin perampok.

“Ambil kalau kalian berani,” Raden Mustari menggertak. “Serang mereka” perintah Bajul Ijo.

Serentak gerombolan perampok yang sedari tadi sudah mengepung rombongan Raden Mustari menyerang. Pertempuran hebat tidak terelakkan lagi, Raden Mustari, Ki Selo Kopo, Ki Rogo Nolo, beserta Nyi Endang Kusuma bahu-membahu melawan perampok yang menyerang mereka. Keris Kyai Barong milik Raden Mustari berkelebat membabat musuh yang datang, sementara tombak Naga Bumi Ki Selo Kopo berputar-putar membabat lawan. Ki Rogo Nolo dengan cemeti saktinya menangkis serangan panah yang ditujukan kepada mereka dan balik menyerang sementara cundrik Nyi Endang Kusuma tak kalah saktinya melumpuhkan para perampok. Raden Mustari tak memberikan kesempatan para pengacau melarikan diri, seluruh celah telah ditutup. Bersamaan dengan robohnya pimpinan perampok Bajul Ijo oleh keris Singo Barong, para begal dan rampok itu berhasil ditumpas.

“Para abdiku, kelompok begal Bajol Ijo telah kita basmi, kita harus memastikan tidak ada lagi para begal dan perampok yang berdiam di sekitar tempat ini. Mari kita susuri sekitar Alas Nogosari dan Penolo ini,” jawab Raden Mustari.

“Baik raden, mari kita lanjutkan perjalanan ini, bila gerombolan pengacau itu masih kita temui, tumpas saja,” sahut Ki Rogo Nolo bersemangat.

Rombongan Raden Mustari mulai menyusuri sisi Selatan Alas Nogosari. Benar saja, setelah setengah hari perjalanan, rombongan kembali dihadang gerombolan perampok . Pertempuran tak dapat dihindari lagi, Raden Mustari beserta abdinya bahu-membahu menangkis dan menyerang musuh. Kemenanganpun akhirnya bisa didapatkan dengan susah payah. Gerombolan perampok kedua itupun berhasil dikalahkan. Dengan kelelahan yang teramat sangat, Raden Mustari beserta abdinya beristirahat dipinggiran Alas Penolo. Setelah membersihkan diri, Raden Mustari beserta rombongan mencoba beristirahat melepaskan kelelahan karena dua pertempuran yang telah dialami. Sementara itu, abdi setia Raden Mustari mulai berburu hewan untuk santapan pengisi perut. Tak beberapa lama ke tiga abdi tersebut telah membawa beberapa ekor ayam hutan dan mulai memanggangnya. Baru beberapa saat Raden Mustari dan abdinya menikmati ayam panggang, tiba-tiba serombongan penduduk mendatangi mereka membawakan beberapa bakul nasi, kudapan, dan lauk ikan asin, sementara penduduk yang lain membawa setandan pisang dan satu janjang kelapa muda.

“Kisanak, ada apa gerangan engkau beramai-ramai mendatangi kami?”

“Kami adalah penduduk sekitar tempat ini, perkenalkan saya adalah Ki Bekel, pemimpin di wilayah ini. Saya dan penduduk yang berdiam di sekitar Alas Nogosari dan Alas Penolo ini sudah mendengar sepak terjang Kisanak berempat. Kami merasa sangat berhutang budi karena telah membebaskan kami dari para perampok di wilayah ini,” kata Ki Bekel.

Raden Mustari manggut-manggut, “Oh begitu rupanya. Ketahuilah Ki Bekel, aku dan abdiku adalah punggawa Keraton Mataram. Kami diutus sang Prabu untuk menumpas para perampok yang telah menyengsarakan penduduk. Namaku Raden Mustari, abdiku ini Ki Selo Kopo, sementara disebelahnya Ki Rogo Nolo dan Nyi Endang Kusuma.”

Ki Bekel tampak sumringah dan berkata, “Hamba beserta para penduduk merasa sangat bahagia dan berhutang budi kepada Gusti Prabu Mataram yang telah bersedia memikirkan nasib kami semua. kami tidak mempunyai apa-apa selain makanan ini, sudilah kiranya raden menerima persembahan kami sebagai ucapan rasa syukur kami.”

“Terima kasih, ini sudah cukup. Mari kita makan bersama,” jawab Raden Mustari.

Dengan suka cita dan tanpa membedakan status kebangsawanan dan kawulo alit (penduduk biasa), mereka makan makanan yang ada dengan lahap.

Setelah sekian waktu belalu, disela-sela ramah tamah Ki Bekel berkata, “Raden, Kami penduduk di padukuhan ini bersyukur atas apa yang Raden beserta abdi dalem lakukan, namun demikian kesuburan tanah pertanian dan limpahan rejeki di lereng Gunung Ungaran ini bagaikan magnet buat perampok, begal maupun pengacau untuk menjarah kami. Kami hanya penduduk biasa tidak mampu olah kanuragan, bila kami tidak dipimpin orang yang tangguh sakti mandraguna, penduduk di sini hanya akan menjadi sapi perahan para penjahat.” Raden Mustari merenung, kemudian berkata,” Aku tidak bisa menjawab saat ini Ki Bekel, biarlah aku merenung beberapa hari untuk memikirkan ini.”

“Baiklah Raden, besar harapan kami engkau bisa memimpin kami disini.” Jawab Ki Bekel. Sepekan berlalu tatkala Raden Mustari beserta para abdi dan penduduk desa berkumpul di halaman rumah Ki Bekel.

“Wahai penduduk, setelah sekian lama aku merenung bermunajat kepada Tuhan, aku

memutuskan untuk tinggal di padukuhan ini. Aku akan mendirikan sebuah kademangan,

setiap tahun aku akan sowan (menghadap) ke Keraton Mataram sambil membawa upeti hasil bumi sebagai tanda setiaku kepada Keraton Mataram. Besuk adalah hari yang baik, mari bersama-sama kita bergotong-royong membangun pendopo kademangan sebagai pusat pemerintahan.”

“Baik, kami siap melaksanakan arahan Raden,” jawab Ki Bekel.

Satu purnama berlalu, bersama-sama penduduk di beberapa padukuhan dengan arahan Raden Mustari bahu-membahu bergotong royong membangun pendopo. Tepat satu purnama, tanpa halangan berarti Pendopo Kademangan telah berdiri megah.

“Wahai para penduduk, sebagai ucapan rasa syukur atas terbebasnya masyarakat dari para perampok yang setiap saat mengganggu diwilayah ini, juga telah selesainya bangunan pendopo sebagai simbol adanya pemerintahan disini, marilah kita awali langkah kehidupan kita dengan laku srada/sadranan (menghormat leluhur dengan cara mengeluarkan nasi ambengan/ tumpeng untuk selamatan). Bersihkan makam-makam leluhur dan melakukan dandan kali (membersihkan aliran sungai) agar aliran air yang mengaliri irigasi kepersawahan kita menjadi berkah. Setelah itu baru kita ondrowino dengan menyelenggarakan pagelaran wayang kulit.

“Baik Raden, kami siap melakukan,” jawab para sesepuh dari beberapa padukuhan. “Lakukan dengan penuh keikhlasan dan permohonan kepada Yang Maha Kuasa,” lanjut

Raden Mustari.

Mentari telah menunaikan darmanya dan berganti Rembulan. Penduduk tampak sibuk sesuai dengan tugas yang diperintah Raden Mustari. Kepada Ki Bekel yang ada disampingnya Raden Mustari berkata,” Untuk kelengkapan pagelaran wayang kulit besuk, siapkan sesajen dalam tampah atau tenong berupa sego tumpeng (nasi tumpeng), ingkung

ayam jago (ayam jantan yang dimasak utuh tidak dipotong-potong), jajan pasar (makanan

tradisional yang dijual di pasar), gulo jowo (gula jawa), klopo puteh sing wes diilangi arine (kelapa tua yang sudah dikupas kulit arinya), gedang rojo temen (pisang raja/ rajanya pisang), cikal klopo tuo (buah kelapa yang sudah bertunas), wowoh utowo uwos telung sendok (beras tiga sendok), endok jowo (telur jawa), suruh kinang temu ros (kapur sirih), duwet sak ketip (beberapa uang logam), gelaran kloso mendong (tikar daun pandan), tebu wulung (tebu hitam), jarit anyar (kain jarit baru) lan dupo (dupa).

“Baik raden, apabila diperbolehkan kami ingin mengetahui apa maksud dan tujuan dari sesajen tadi biar nanti anak cucu kami tahu, memahami dan tidak salah paham dengannya,” harap Ki Bekel.

Sesajen adalah pelengkap selamatan dan permohonan doa yang ditujukan kepada Sang Hyang Widhi/ Tuhan Yang Maha Kuasa untuk leluhur di pedukuhan yang bubak citak (membuka, mengawali). Adapun sanepo (simbol) dan singkatan tumpeng (nasi tumpeng) adalah tumindak sing lempeng, berperilaku dengan lurus dan benar sesuai tata nilai norma dan aturan, bisa juga diartikan tumuju ing Pangeran/ pengharapan dan doa itu ke atas (Tuhan) seperti wujud tumpeng yang mengerucut ke atas , ingkung (ayam jago dimasak utuh) sanepo dan singkatan Ingkang Linangkung/ Yang Maha Kuasa, klopo puteh (kelapa yang sudah dibersihkan kulit arinya) sanepo pengharapan yang putih tulus dari hati, gedang rojo temen (pisang raja/ rajanya pisang) sanepo niat sing tememen/ kuatnya niat hati, cikal klopo tuwo sanepo dari memetri cikal bakal wong tuwo/ mengingat, menghormat leluhur dusun/ desa, wowoh lan sak banjure kuwi sanepo soko memetri, mengeti sing bar lair saking bopo lan ibu yo kakang kawah adi ari-ari (memperingati, menghormati saudara si jabang bayi yang keluar yaitu ari-ari dan air ketuban), gelaran kloso mendong (tikar anyaman dari daun pandan duri) sanepo soko nganyarake panyuwunan/ memperbarui doa dan pengharapan, tebu wulung

sanepo soko antepeng kalbu/ kuatnya hati, pengharapan harus dengan hati yang teguh, jarit

anyar kang sinampir sanepo soko penyuwunan kabeh mau mung sinampir/ harapan dan doa itu harus dipanjatkan, dupo kang urip lan wangi kuwi sanepo kabeh panyuwunan mau disarononi kanti musatke pikir karo wangine dupo saenggo panyuwunan mau munggah koyo dene munggahe asep dupo/ wangi dupa sebagai sarana memusatkan fikiran sehingga doa menjadi lebih khusuk dipanjatkan dan dapat diterima Yang Maha Kuasa seperti naiknya asap dupa ke atas,” jelas Raden Mustari.

“Terima kasih penjelasannya raden, dengan penjelasan ini kami semua menjadi tahu bahwa apa yang ada dalam sajen pagelaran wayang kulit ini, atau kegiatan selametan yang lain pada dasarnya adalah tamsil dan perlambang, jadi tidak dimaknai syirik atau menyekutukan Yang Maha Kuasa. Kami penduduk di padukuhan ini menjadi faham akan wujud keluhuran budaya kami, kami berjanji tradisi ini akan kami uri-uri (dilestarikan) dan kami wariskan kepada anak cucu kami. Segera kami akan menyiapkan semuanya,” jawab Ki Bekel sambil mengangguk-angguk.

Keesokan harinya persiapan telah selesai, setelah Matahari tergelincir ke arah Barat, pagelaran wayang kulit dimulai. Penduduk padukuhan tampak hikmat menyimak tontonan yang sekaligus tuntunan dan kiasan kehidupan. Pagelaran wayang dilaksanakan sehari- semalam. Penduduk tersebut melaksanakan ruwatan dan sekaligus sarana instrospeksi diri dengan penuh suka cita. Ruwatan telah selesai dilaksanakan, pitutur dan piwulang (nasehat dan ajaran hidup dan kehidupan) telah diberikan lewat pertunjukan wayang kulit. Ikhtiar telah dijalankan dengan sungguh-sungguh, atas rahmat Sang Hyang Widhi/ Tuhan Sang Maha Kuasa, penduduk dibeberapa padukuhan tersebut bersuka cita, impiannya terbebas dari belenggu keangkara murkaan akhirnya terwujud.

Demi mengingat perjuangan penduduk dalam merubah nasib dari penindasan, yang

seolah-olah keinginan tersebut mengada-ada dan mustahil karena begitu kuatnya belenggu

para perampok, Raden Mustari kemudian menamai beberapa padukuhan tersebut dan menjadikan satu dalam sebuah wilayah dengan nama Kademangan Ngadikerso.

Hari berganti bulan, bulan berganti tahun, penduduk sekitar Lereng Gunung Ungaran mulai berdatangan menetap di kademangan yang Raden Mustari pimpin karena mendengar keadilan dan kesuburan tanahnya.

Dalam kesendirian, Raden Mustari teringat pesan mendiang gurunya tentang konsep kepemimpinan. Konsep pemimpin yang baik, amanah dan mendapat berkah dari Yang Maha Kuasa adalah pemimpin yang adil, tegas, peduli dan mengutamakan kepentingan penduduk. Kademangan yang Raden Mustari pimpin lambat laun menjadi kademangan yang besar, rakyatnya makmur gemah ripah loh jinawi. Wilayah Kademangan Ngadikerso meliputi 4 Kabekelan (dusun) yaitu Kabekelan Krajan sebagai pusat pemerintahan, Kabekelan Kawedusan   (diberi                 nama           sesuai  dengan                       banyaknya          penduduk       yang                    memelihara wedus/kambing), Kabekelan Gondangan    (diberi nama sesuai dengan pepohonan yang tumbuh diwilayah tersebut yaitu pohon-pohon besar yang mengeluarkan getah damar/ Ficus Variegata) serta Kabekelan Jlegong. Kabekelan Jlegong adalah wilayah baru yang dinamai seperti itu karena peristiwa jlegongnya (jatuhnya) Raden Mustari beserta kudanya dan menjadi sebab meninggalnya pemimpin Kademangan Ngadikerso.

Raden Mustari kemudian dimakamkan di wilayah Jlegong. Sampai saat ini makam Raden Mustari beserta abdi dalemnya masih ada dan oleh masyarakat setempat dianggap yang bubak citak Desa Ngadikerso.

(Tulisan ini dikirimkan oleh Bp Ngatimin dan Bp Mahfud Fauzi dalam lomba penulisan cerita legenda rakyat dan mendapatkan juara II dalam lomba di Kabupaten Semarang)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.