Masyarakat Peduli HIV AIDS

Umum

Sampai dengan bulan Juni 2022, telah terdapat 30 kasus HIV di Kecamatan Sumowono, dari keseluruhan 960 orang di Kabupaten Semarang, dengan faktor penularan HIV lebih dari 90% merupakan usia produktif kerja, bahkan ada juga temuan pada usia pelajar.

Pada tahun 2022 sendiri di seluruh Kabupaten Semarang terdapat penambahan kasus baru sebanyak 64 kasus.

Trend peningkatan temuan kasus baru terjadi pada usia 20 – 24 tahun. Rentang usia keemasan yang semestinya sedang produktif mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja serta menerima amanat membangun bangsa.

Pemerintah global termasuk Indonesia menyatakan bahwa epidemi HIV AIDS harus selesai pada 2030, dan diharapkan terjadi 3 Zero, yaitu :
i. Tidak ada kasus baru HIV AIDS.
ii. Tidak ada kematian akibat AIDS.
iii. Tidak ada stigma dan diskriminasi pada orang dengan HIV/AIDS.

Tema peringatan Hari AIDS Sedunia yang akan diselenggarakan pada tanggal 1 Desember tahun 2022 adalah “Satukan Langkah Cegah HIV, Semua Setara Akhiri AIDS”.

Penanggulangan HIV/AIDS harus menjadi tekad bersama. Kemunculan kasus tersebut menjadi keprihatinan tersendiri sekaligus menjadi pekerjaan rumah (PR) yang harus segera ditanggulangi bersama antara pemerintah, masyarakat, dan kelompok lain. Terlebih Kabupaten Semarang masuk “zona merah” masalah HIV/AIDS.

Dari kasus itu 33 kasus diderita oleh laki-laki. Secara pemetaan, ada empat kecamatan yang kerap ditemukan kasus penyakit menular seksual (PMS) yakni Bandungan, Getasan, Bergas, dan Bawen.

Masyarakat Peduli AIDS telah terbentuk sampai ke tingkat desa sejak 2015 lalu. Didorong untuk melakukan penyuluhan bahaya HIV/AIDS pada generasi muda sebagai sasaran prioritas. Lebih lanjut, peran dan fungsi Masyarakat Peduli AIDS (MPA) perlu ditingkatkan di semua tingkatan guna menekan bertambahnya kasus positif HIV/AIDS. MPA di tingkat desa bahkan di bawahnya perlu meningkatkan intensitas penyuluhan kepada kelompok remaja guna mencegah penularan lebih dini.

Prinsip penularan Virus HIV dikenal dengan ESSE, artinya Exit (keluar), Survive (virus hidup), Sufficient (konsentrasi cukup) dan Enter (masuk ke tubuh manusia). Strategi jalur cepat menghentikan HIV adalah dengan Suluh, Temukan, Obati dan Pertahankan (STOP) agar tidak terdeteksi kembali virusnya.

Formula penambahan penyuluhan dan tes VCT akan tepat untuk mewujudkan Indonesia bebas AIDS pada 2030. Saat ini, 26 puskesmas yang ada dan seluruh rumah sakit di Kabupaten Semarang dapat melayani tes VCT. Bahkan ada pula layanan kunjungan klinis oleh seluruh puskesmas. Deteksi dini penyakit ini dan pengobatan sejak gejala ringan menjadi fokus KPAD saat ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.