Legenda Desa Duren

Umum

Pada zaman dahulu terdapat sebuah hutan bernama Hutan Gerpetung. Nama Gerpetung diambil dari kata “Petung” yang berarti jenis bambu Petung. Datanglah dua orang Kyai yang mengembara. Nama kedua Kyai tersebut adalah Mbah Kyai ragil dan Mbah Kyai Dayu yang mengembara dengan maksud memperdalam ilmu dan juga mencari lahan pertanian yang subur.
Karena merasa hutan tersebut sangatlah subur, maka keduanya membuka lahan untuk bercocok tanam dengan pohon kopi, dan ternyata lahan tersebut memang cocok untuk ditanami kopi.
Sampai dengan tahun 1970an, Desa Duren Kecamatan Sumowono terkenal dengan tanaman kopinya, namun karena terserang hama kutu loncat membuat tanaman kopi banyak yang mati.
Dengan hasil menanam kopi, Kyai Ragil dan Kyai Dayu dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dan merasa betah tinggal di lahan tersebut. Mereka lalu mendirikan bangunan tempat tinggal yang dekat dengan lahan pertaniannya.

Setelah beberapa tahun tinggal di lahan tersebut, banyak orang yang datang mengikuti jejak kedua Kyai tersebut membuka lahan yang saat itu penuh dengan tanaman Bambu Petung. Dengan kerja keras mereka lahan pertanian kemudian terwujud dengan tanaman jagung sebagai makanan pokok dan tanaman kopi untuk kebutuhan lainnya.

Tahun demi tahun semakin banyak orang luar daerah datang ke Hutan Gerpetung bersama keluarganya membuka lahan pertanian sehingga hutan Gerpetung tidak cukup untuk dijadikan lahan pertanian dan tempat mendirikan rumah.

Kyai Ragil dan Kyai Dayu sepakat untuk memindahkan atau mendirikan rumah tinggal di sebelah utara hutan Gerpetung. Menurut sumber sejarah di hutan sebelah utara tersebut terdapat pohon Durian yang sangat besar. Dikarenakan lokasi sekitar tumbuhnya pojon durian tersebut akan dijadikan tempat tinggal, maka pada hari Rabu Kliwon pohon tersebut ditebang untuk dijadikan pemukiman penduduk. Pohon durian yang ditebang tersebut kemudian diabadikan menjadi sebuah nama perkampungan yaitu Dusun Duren.

Setiap setahun sekali di hari Rabu Kliwon pada bulan Rajab diperingati sebagai hari jadi Dusun Duren dan telah menjadi tradisi warga untuk mengadakan hiburan wayang kulit sebagai peringatan hari jadi Dusun Duren yang berawal dari ditebangnya pohon Durian tersebut menjadi nama perkampungan Dusun Duren.

Disamping kegiatan tersebut juga terdapat kegiatan rutinitas tahunan berupa :

  1. Bulan Safar, dimana diadakan selamatan saparan.
  2. Bulan Maulud dimana diadakan selamatan yang disebut Muludan dengan menyajikan makanan berupa ketan dan kolak.
  3. Bulan Rajab dimana warga mengadakan selamatan yang disebut Rajaban dan peringatan hari jadi Dusun Duren yaitu hari Rabu Kliwon bulan Rajab.
  4. Bulan ruwah warga mengadakan selamatan yang disebut juga dengan ruahan dan sadranan. Sadranan adalah ritual selamatan secara massal di halman atau lapangan dengan membawa nasi dan kue atau makanan kecil sebagai ungkapan syukur diberikan rezeki dari hasil pertaniannya.

(Cerita dari wawancara Lurah Duren, Eko Sudarmo dengan Mbah Sukarto, kelahiran Dusun Duren 1936)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.